AUDIT TERHADAP SIKLUS PENGELUARAN Pengujian Subtantif Terhadap Saldo Utang Usaha
B A B I
PENDAHULUAN
Di dalam bab ini diuraikan
perancangan pengujian subtantif terhadap utang usaha. Yang diawali dengan
definisi utang usaha, kemudian dilanjut dengan prinsip akuntansi berterima umum
dalam penyajian unsur utang usaha dalam neraca dan tujuan audit terhadap utang
usaha. Karena utang usaha merupakan bagian terbesar utang lancar, dan karena
karakteristik utang lancar sangat berbeda dengan aktiva lancar, maka dalam
deskripsi utang lancar diuraikan dampak karakteristik utang lancar tersebut
terhadap pengujian subtantif terhadap utang lancar.
B A B II
RUMUSAN MASALAH
1. Apa
yang di maksud dengan Utang Usaha?
2. Apa
saja yang termasuk prinsip akuntansi berterima umum di Iindonesia dalam
penyajian utang lancar?
3. Apa
saja tujuan audit terhadap utang usaha?
4. Prosedur
apa saja yang ada pada pengujian subtantif terhadap utang usaha?
B A B III
AUDIT TERHADAP SIKLUS PENGELUARAN
Pengujian Subtantif Terhadap Saldo Utang
Usaha
1.
Definisi Utang Usaha
Utang usaha
termasuk sebagai unsur utang lancar. Utang lancar meliputi semua kewajiban yang
akan dilunasi dalam periode jangka pendek (satu tahun atau kurang dari tanggal
neraca atau dalam siklus kegiatan normal perusahaan) dengan cara mengurangi
aktiva yang dikelompokkan dalam aktiva lancaratau dengan cara menimbulkan utang
lancar yang lain. Utang lancar digolongkan menjadi 6 kelompok berikut ini:
a. Utang
usaha yang timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan bahan penolong, suku
cadang, dan bahan habis pakai pabrik (factory
supplies) Utang usaha dapat digolongkan menjadi 2 golongan : (1) utang yang
tidak disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis tentang kesanggupan
untuk membayar kewajiban (disebut dengan utang usaha atau account payable) dan (2) utang yang disertai dengan surat berharga
sebagai bukti tertulis tentang kesanggupan untuk membayar kewajiban (disebut
dengan utang wesel atau notes payable).
b. Uang
jaminan masuk dari pelanggan.
c. Utang
yang timbul dari berlalunya waktu (accrued
payable).
d. Utang
yang timbul kepada pihak ketiga karena perusahaan yang ditunjuk sebagai
pemungut pajak atau iuran yang lain, seperti utang Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), utang Pajak Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 25), utang dana pensiun,
utang asuransi karyawan.
e. Accrual
yang timbul dari kegiatan usaha perusahaan meskipun :
·
Jumlah utang tersebut harus ditaksir
seperti utang bonus.
·
Krediturnya tidak diketahui seperti
utang biaya reparasi untuk produk perusahaan yang dijual dengan garansi.
·
Utang yang jumlahnya harus diukur dari
transaksi sekarang misalnya utang sewa, pendapatan yang diterima dimuka, utang
yang jumlahnya dihitung dari besarnya deplesi sumber alam.
f. Utang
lain yang diperkirakanakan dilunasi dalam jangka waktu pendek seperti utang
bank (kredit modal kerja misalnya), utang jangka panjang yang segera jatuh
tempo, utang pajak penghasilan utang deviden.
Utang
usaha merupakan bagian terbesar utang lancar perusahaan, oleh karena itu,
pengujian subtantif dalam pembahasan ini difokuskan terhadap utang usaha.
2.
Prinsip Akuntansi Berterima Umum Dalam
Penyajian Utang Lancar Di Neraca
Sebelum membahas
pengyujian subtantif terhadap utang usaha, perlu diketahui terlebih dahulu
prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia dalam penyajian utang lancar di
neraca berikut ini :
a. Setiap
jenis utang usaha lancar harus disjikan secara terpisah, jika jumlahnya
material.
b. Utang
kepada perusahaan afiliasi, pemegang saham, dan karyawan perusahaan harus
dipisahkan dari utang kepada pihak ketiga yang independen.
c. Aktiva
yang dijaminkan dalam penarikan utang lancar harus diungkapkan dalam laporan
keuangan.
d. Aktiva
dan utang tidak boleh digabungkan penyajiannya dalam jumlah neto.
e. Utang
bersyarat harus dijelaskan dalam neraca.
3.
Tujuan Pengujian Subtantif Terhadap
Utang Usaha
Tujuan
audit terhadap utang usaha adalah :
a. Memperoleh
keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan utang
usaha.
b. Membuktikan
keberadaan utang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan utang
usaha yang dicantumkan di neraca.
c. Membuktikan
kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan
saldo utang usaha yang disajikan di neraca.
d. Membuktikan
kewajiban klien yang dicantumkan di neraca.
e. Membuktikan
kewajiban penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca.
Rerangka
tujuan pengujian subtantif terhadap utang usaha pada gambar 3.1. Dalam gambar
tersebut terlihat bahwa tujuan utama pengujian subtantif terhadap utang usaha
adalah membuktikan bahwa saldo akun utang usaha yang dicantumkan dalam neraca
mencerminkan saldo akun utang usaha yang sesungguhnya pada tanggal neraca
tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut dirancang pengujian subtantif yang
digolongkan ke dalam lima kelompok: (1) prosedur audit awal, (2) prosedur
analitik, (3) pengujian terhadap transaksi rinci, (4) pengjuian terhadap saldo
akun rinci, (5) verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan. Kelima kelompok
pengujian subtantif tersebut untuk memverifikasi lima asersi manajemen yang
terkandung dalam akun Utang Usaha : (1) keberadaan dan keterjadian, (2)
kelengkapan, (3) penilaian, (4) kewajiban, dan (5) penyajian dan pengungkapan.
Gambar 3.1 Rerangka Tujuan Pengujian
Subtantif terhadap Utang Usaha
Memperoleh
keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan utang
usaha. Sebelum auditor melakukan pengujian sebelum
kewajaran saldo utang usaha yang dicantumkan dalam neraca, ia harus memperoleh
keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntansi yang mendukung
informasi utang usaha yang disajikan dalam neraca. Untuk itu auditor melakukan
rekonsiliasi antara saldo utang yang dicantumkan dalam neraca dengan akun Utang
Usaha dalam buku besar dan selanjutnya ke register bukti kas keluar dan
register cek.
Membuktikan
asersi keberadaan dan keterjadian utang usaha yang dicantumkan di neraca.
Dalam pengujian subtantif terhadap utang pada umumnya, pengujian ditujukan
untuk menemukan kemungkinan adanya unrecorded
liabilities. Untuk membuktikan asersi keberadaan aktiva dan keterjadian
transaksi yang bersangkutan dengan utang lancar, auditor melakukan berbagai
pengujian subtantif berikut ini :
a. Pengujian
analitik.
b. Pemeriksaan
bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang usaha.
c. Pemeriksaan
pisah batas transaksi yang berkaitan dengan utang usaha.
d. Konfirmasi
piutang usaha.
e. Rekonsiliasi
utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang diterima oleh klien
dari krediturnya.
Membuktikan asersi
kelengkapan utang usaha yang dicantumkan dalam neraca.
Seperti tersebut dalam prinsip akuntansi berterima umum, utang usaha harus
disajikan di neraca pada fakta pada tanggal neraca atau dengan kata lain
sebesar jumlah yang menjadi kewajiban klien kepada kreditur pada tanggal
neraca. Tidak seperti halnya dengan piutang usaha yang disajikan di neraca
dalam jumlah bruto dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang
usaha, utang usaha disajikan di neraca pada jumlah kewajiban klien pada tanggal
neraca. Dengan demikian tujuan pembuktian asersi penilaian tidak berlaku
terhadap saldo utang usaha pada tanggal neraca. Pembuktian asersi kelengkapan
utang usaha lebih ditujukan untuk mencari adanya unrecorded liabilites pada tanggal tersebut. Untuk membuktikan
bahwa utang usaha yang dicantumkan di neraca mencakup semua kewajiban klien
kepada kreditur pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan
deangan utang usaha dalam tahun yang diaudit, auditor melakuakn pengujian
subtantif seperti yang diatas.
Transaksi
yang berkaiatan dengan timbul dan berkurangnya utang usaha mempunyai pengaruh
yang langsung terhadap perhitungan saldo utang usaha pada tanggal neraca, sehingga
ketidaktepatan dalam penetapan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan
utang usaha akan berdampak langsung terhadap perhitungan akun Utang Usaha dan
pembelian (purchases). Oleh karena itu salah satu pengujian
subtantif untuk membuktikan asersi kelengkapan utang usaha adalah pemeriksaan
terhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan utang usaha.
Membuktikan asersi
kewajiban klien atas utang usaha yang dicantumkan di neraca. Utang
usaha yang ada pada tanggal neraca merupakan kewajiban klien kepada kreditur
pada tanggal tersebut. Untuk membuktikan kewajiban klien yang terecrmin dalam
utang usaha yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian subtantif
berikut ini :
a. Pemeriksaan
bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan utang usaha.
b. Konfirmasi
piutang usaha.
c. Rekonsiliasi
utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang diterima oleh klien
dari krediturnya.
Membuktikan asersi
penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca. Penyajian
dan pengungkapan unsur-unsur laporan keuangan harus didasarkan pada prinsip
akuntansi berterima umum. Pengujian terhadap utang usaha diarahkan untuk
mencapai salah satu tujuan untuk membuktikan apakah unsur utang usaha telah
disajikan dan diungkapakan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip
akuntansi berterima umum. Pengujian subntantif untuk membuktikan asersi
penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca adalah
a. Konfirmasi utang usaha
b. Rekonsiliasi
utang yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang yang diterima oleh klien
dari krediturnya.
c. Pembandingan
penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum yang
diaudit dangan prinsip akuntansi berterima umum.
4.
Program Pengujian Subtantif Terhadap
Utang Usaha
Program
pengujian subtantif terhadap utang usaha berisi prosedur audit yang dirancang
untuk mencapai tujuan audit seperti yang telah diuraiakan di atas. Tahap-tahap
prosedur audit dimulai dari pemeriksaan yang bersifat luas dan umum sampai ke
pemeriksaan yang bersifat rinci.
Berbagai
prosedur audit dilaksanakan dalam lima tahap berikut ini:
a.
Prosedur audit awal.
Sebelum
membuktikan apakah saldo utang usaha yang dicantumkan oleh klien di dalam
neracanya sesuai dengan utang usaha yang benar-benar ada pada tanggal neraca,
auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi utang usaha yang dicantumkan di
neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu
dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa informasi utang usaha yang
dicantumkan di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya.
b.
Prosedur analitik
Pada
tahap awal pengujian subtantif terhadap utang usaha, pengujian analitik
dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam
menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif.
c.
Pengujian terhadap transaksi rinci.
Karena
hampir semua saldo utang lancar, seperti utang usaha dan utang wesel, didukung
dengan dokumen yang berasal dari pihak luar, maka keberadaan saldo akun utang
dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut dibuktikan oleh
auditor dengan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen pendukung transaksi
tersebut. Dalam memverifikasi saldo utang usaha dan ketejadian transaksi yang
berkaitan dengan akun tersebut, auditor memeriksa arsif kas keluar yang belum
dibayar (Open voucher file) beserta
dokumen pendukung seperti surat order pembelian, laporan penerimaan barang, dan
faktur dari pemasok. Dalam memverifikasi utang wesel auditor cukup memriksa copy sertifikat wesel yang disimpan
klien. Dalam memverifikasi utang bank auditor meminta surta perjanjian
penarikan kredit dari bank untuk membuktikan eksistensi utang tersebut serta
untuk memperoleh informasi mengenai syarat-syarat kredit dan jumlah pokok pinjaman, kekayaan
yang dijaminkan, serta tarif bunga.
d.
Pengujian terhadap saldo akun rinci
Tujuan
pengujian saldo akun utang usaha rinci adalah untuk memverifikasi:
·
Keberadaan dan keterjadian.
·
Kelengkapan.
·
Kewajiban.
·
Penyajian dan pengungkapan.
Keberadaan,
kelengkapan, kewajiban serta penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca
di buktikan oleh auditor dengan mengirimkan surat konfirmasi kepada debitur dan
rekonsiliasi utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan
yang diterima oleh klien dari kreditur.
e.
Verifikasi dan pengungkapan
·
Periksa klasifikasi utang usaha di
neraca.
·
Periksa pengungkapan yang bersangkutan
dengan utang non usaha.
·
Periksa pengungkapan yang bersangkutan
dengan utang usaha.
·
Mintalah informasi dari klien untuk
menemukan komitmen yang belum diungkap dan utang bersyarat dan periksa penjelasan
yang bersangkutan dengan utang usaha tersebut.
·
Pelajari notulen rapat direksi sampai
dengan tanggal penyelesaiaan pekerjaan lapangan.
·
Periksa kontrak-kontrak pembelian,
penjualan, dan kontrak yang lain.
·
Mintalah informasi dari pengacar klien
mengenai perkara pengadilan yang melibatkan klien
·
Kirimkan konfirmasi ke bank
·
Pelajari arsip korespondensi klien
dengan lembaga keuangan.
KESIMPULAN
Utang
lancar memiliki karateristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva lancar,
yang berdampak terhadap pengujian subtantif terhadap utang lancar. Dalam
menyajikan aktiva lancar, klien berkecendrungan umum untuk menyajikan aktiva
tersebut lebih tinggi dari jumlah yang senyatnya. Di lain pihak, dalam
menyajikan utang lancar, klien berkecendrungan umum untuk menyajikan utang
tersebut lebih rendahdari jumlah yang senyatanya. Kecendrungan ini di dorong
oleh keinginan untuk menyajikan gambaran modal kerja perusahaan yang lebih
baik. Oleh karena itu, pegujian subtantif terhadap utang lancardi tujukan untuk
menemukan adanya penyajian utang lancar yang lebih rendahdari jumlah yang
seharusnya (understatment Utang
Lancar).
Pengujian subtantif terhadap utang
usaha di tujukan untuk memperoleh keyakinana tentang keandalan catatan
akuntansi bersangkutan dengan utang usaha, membuktikan keberadaan utang usaha
dan keterjadian transaksi yang berkaitan deangan utang usaha yang dicantumkan
di neraca, membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatna
akuntansi serta membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang usaha di
neraca.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi. Auditing. buku 2 Edisi 6 Jakarta: PT
Salemba Empat, 2002.

3 Komentar:
thanks ya,, hal ini sungguh membantu
ijin share ya, makasih
The Casino, Hotel & Racetrack - Jackson County - Mandiri
› casino-hotel-casino-hotel-casino-hotel › casino-hotel-casino-hotel 양주 출장마사지 Mandiri Mandiri in Jackson County, Jackson County. 남원 출장마사지 Mandiri casino offers 출장안마 the 서울특별 출장마사지 best 하남 출장안마 in entertainment and amenities.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda